Motif Kain Batik Truntum

Simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum).

Motif Kain Batik Tulis Madura

Madura Proverb: lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Better off dead (white bone) rather than shame (white of the eye).

Motif Kain Batik Yogyakarta

Yogyakarta city is known as a center of classical Javanese fine art and culture such as batik, music, and puppet shows.

Motif Kain Batik Grompol

Grompol, which means gather together symbolizes the coming together of all goods things, such as luck, happiness, children, and harmonious married life.

Motif Kain Batik Indonesia Lainnya

Batik has become one of the principal means of expression of the spiritual and cultural values of Southeast Asia.

Minggu, 05 Mei 2013

PENERAPAN AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA


Buat Mahasiswa/i dan sebagian besar pengunjung blog ini mungkin baru pertama kali ini mendengar istilah PPAKP.


PPAKP sendiri adalah DIKLAT yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia
yang bertujuan:
"Menciptakan SDM Keuangan yang kompeten dalam menjalankan tugas di bidang keuangan negara"

PPAKP merupakan program pelatihan penerapan akuntansi sektor publik di Indonesia.

Pesertanya adalah PNS yang ditunjuk Instansinya masing-masing.

Orang awam tentunya tidak bisa mengikuti Pelatihan ini.

Apa Saja Materinya:

  1. ALK
  2. BAS
  3. DASAR-DASAR AKUNTANSI
  4. KEUANGAN NEGARA
  5. LATIHAN PENYUSUNAN LK
  6. MANAJEMEN ASET
  7. MANAJEMEN KAS
  8. PELAKSANAAN ANGGARAN
  9. PEMBUKUAN LPJ BENDAHARA
  10. PENGELOLAAN HIBAH
  11. PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
  12. PIUTANG
  13. PPKIP DAN TINDAK LANJUT TEMUAN BPK
  14. SAK
  15. SAP
  16. SAPP
  17. SIMAK BMN
  18. SLIDE BAHAN AJAR
  19. SPAN DAN SAKTI
  20. SPIP DAN REVIEW

Tapi jangan khawatir buat yang ingin belajar Akuntansi Pemerintahan atau Akuntansi Sektor Publik yang diterapkan oleh pemerintah tapi tidak bisa ikut pelatihannya bisa download materinya disini.


Selasa, 30 April 2013

Hardisk Tiba-tiba Penuh...?

Beberapa hari ini saya merasa aneh dengan perilaku komputer saya
hardisk saya tiba-tiba penuh ..kalo dompet penuh uang mah ndak apa-apa :)
bagaimana mungkin saya tidak menyimpan apapun atau mendownload file dalam jumlah yang besar
saya pikir pertama
ah.. Mungkin virus atau malware...
ternyata bukan
usut punya usut ternyata ada satu file yang ukurannya terus membesar sampai hardisk menjadi penuh.

Nama filenya toolbar_log.txt file ini berada pada folder temp application data.

Bagaimana ketika anda online dan ini tentunya file ini akan membengkak sehingga akan memakan  bandwidth anda.

Buat anda yang berlangganan internet quota based tentunya hal ini menjengkelkan karena akan menghabiskan quota anda


Kejadian ini ternyata adalah bug yang ditemukan pada semua komputer PC yang memakai AVG 2013 update terbaru. kejadian ini tidak berlaku buat AVG versi lama. Saya tidak menemukannya untuk versi Tablet,  Android dan Mobile.

Wah repot ni..
Remove Toolbar AVG atau mendisable-Tindakan ini tidak akan berhasil.
mendelete toolbar_log.txt tindakan ini juga tidak akan berhasil karena begitu didelete file ini akan
muncul dan membesar kembali.
meng unistall AVG nya tidak akan berhasil juga
trus bagaimana donk 


Solusi yang disarankan 
Pindah ke Antivirus lain atau menunggu Bug diperbaiki

Cara lainnya:

1. UnInstall AVG Antivirus anda trus Restart
2. Matikan Vprot.exe yang running dalam sistem

Masuk ke Taskbar Manager
pada xp tekan Ctrl+Alt+Del
Pilih vprot.exe
End Process

3. Bersihkan registri yang dibuat vprot
 
Buat Windows  Xp
    Klik start> Run> Regedit
    Hapus/Delete vprot.exe pada
    (HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run)

Pada Vista dan Windows 7   
buka command prompt.
Copy command line dan Paste perintah berikut

echo Start
echo #
echo ######################## Default dirctory for x86 x64 ########################
echo #
echo this command is default system32 directory for x86 OS or x64 OS
cd %windir% & cd system32
reg delete "HKCU\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run" /v "vProt" /f
reg delete "HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run" /v "vProt" /f
echo #
echo ######################## Change the dirctory for x64 ########################
echo #
echo this command is x86 application's registry for x64 OS
cd %windir% & cd syswow64
reg delete "HKCU\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run" /v "vProt" /f
reg delete "HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run" /v "vProt" /f
echo End


Selanjutnya

4. Delete Toolbar_log.txt
5. Selesai
6. Install Antivirus Lainnya.

Wah repot ya..

Ada saran lebih baik?

Sabtu, 27 April 2013

Balance Scorecard Pada Organisasi Syariah

Organisasi adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.

Sedangkan secara bahasa syariat berasal dari kata syara’ yang berarti menjelaskan dan menyatakan sesuatu atau dari kata Asy-Syir dan Asy Syari’atu yang berarti suatu tempat yang dapat menghubungkan sesuatu untuk sampai pada sumber air yang tak ada habis-habisnya sehingga orang membutuhkannya tidak lagi butuh alat untuk mengambilnya.


Syariah juga bermakna jalan yang lurus.  Sedangkan makna terminologi (definisi), syariah adalah undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan pencipta (Allah SWT), serta hubungan antara manusia dengan manusia. Penerapan syariah dalam setiap kehidupan manusia bertujuan agar manusia memiliki martabat dan derajat yang lebih tinggi dari mahluk lain ciptaan Allah SWT.

Syariah mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan oleh seorang muslim dengan aturan-aturan halal dan haram, serta perilaku baik dan buruk. Syariah bertumpu pada kekuatan iman dan budi pekerti (akhlak) serta memiliki implikasi balasan baik di dunia maupun di akhirat. Panduan dalam pengamalan syariah mengacu kepada dua sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Jadi Organisasi Syariah adalah Sekelompok orang yang mengikatkan diri dalam suatu wadah untuk tujuan bersama dimana seluruh aktivitasnya berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dari segi bentuknya Organisasi syariah dapat berupa Perusahaan bisnis yang mencari keuntungan dan Organisasi nirlaba dan sektor publik yang cenderung melayani. 

Diantara Perusahaan Bisnis Syariah yang mencari Keuntungan diantaranya:
  • Koperasi Syariah
  • Perbankan Syariah
  • BMT (Baitul Mall wa Tamwil)
  • Asuransi Syariah
  • dll
 Sedangkan contoh organisasi syariah nirlaba dan sektor publik diantaranya:

  • PKPU
  • Rumah Yatim
  • BAZ (Badan Amil Zakat)
  • Rumah Zakat
  • Organisasi Berbentuk Yasasan Pendidikan Syariah
  • dll
Dilihat dari bentuknya ini maka dapat dengan mudah kita menentukan Balance Scorecard
yang mana yang paling sesuai untuk digunakan.

Untuk Perusahaan Bisnis Syariah tentunya Balance Scorecard yang dikembangkan Kaplan dan David Norton paling sesuai. Sedangakan untuk organisasi syariah nirlaba dan sektor publik kita dapat menggunakan panduan Balance Scorecard yang ditulis oleh Niven.



Balance Scorecard Pada Perusahaan



Konsep tentang Balanced scorecard (BSC) pertama kali diperkenalkan oleh Kaplan dan Norton dalam artikelnya pada Harvard Business Review yang diterbitkan tahun 1992.

Pemikiran muncul dilandasi oleh anggapan bahwa pengukuran kinerja tradisional yang biasanya menggunakan tolok ukur keuangan dianggap tidak lagi mampu mengukur kinerja harta yang tidak tampak (intangible assets) dan harta-harta intelektual (SDM) perusahaan.

Selain itu pengukuran kinerja keuangan tidak mampu banyak mengungkap mengenai masa lalu perusahaan dan tak mampu sepenuhnya menuntun perusahaan ke arah yang lebih baik (Kaplan dan Norton, 1996)

BSC ini mempunyai keistimewaan karena selain mempertimbangkan kinerja-kinerja finansial, BSC juga mempertimbangkan kinerja non finansial. 

BSC tidak hanya mengukur hasil (outcome ) tapi juga aktivitas-aktivitas penentu hasil akhir (driver). 

Balance Scorecard menjadi suatu sistem manajemen strategi yang komprehensif.

Balanced Scorecard  mempertimbangkan empat perspektif, yaitu
  • perspektif keuangan, 
  • customer, 
  • proses internal bisnis, 
  • pembelajaran dan pertumbuhan

Balance Scorecard Pada Pemerintahan Dan Organisasi Sektor Publik

Setelah Kaplan dan David Norton mengenalkan Balance Scorecard yang dapat   diterapkan pada lingkungan bisnis perusahaan dan organisasi profit.

Selanjutnya Balance Scorecard pun bisa diterapkan pada organisasi pemerintahan dan sektor publik.

Tokoh yang terkenal dalam memperkenalkan Balance Scorecard pada pemerintahan dan Organisasi Sektor Publik  adalah Paul R Niven, Sehingga anggapan bahwa Balance Scorecard hanya sesuai untuk lingkungan bisnis tidaklah benar.

Berikut ini adalah buku terbaru Paul R Niven Balance Scorecard Step by Step Maximizing Performance and Maintaining Result edisi kedua , Buku ini terdiri dari 12 Bab.

1.   Performance Measurement and the Need for a Balanced Scorecard
2.   Getting Started
3.   Mission, Values, Vision, and Strategy
4.   Strategy Maps
5.   Creating Performance Measures
6.   Setting Targets and Prioritizing Initiatives
7.   Cascading the Balanced Scorecard to Build Organizational Alignment
8.   Using the Balanced Scorecard to Strategically Allocate Resources
9.   Additional Balanced Scorecard Linkages: Compensation and Corporate Governance
10. Reporting Balanced Scorecard Results
11. Maintaining the Balanced Scorecard
12. Concluding Thoughts on Balanced Scorecard Success

Buku ini wajib untuk dijadikan referensi bagi mahasiswa dan mereka yang ingin mendalami Balance Scorecard bagi Pemerintahan dan Organisasi Sektor Publik.

Jumat, 26 April 2013

Pengantar Balance Scorecard

Pada Artikel dan pembahasan sebelumnya telah diperkenalkan tentang ABC system, JIT dan TQM sebagai salah satu strategi perusahaan dalam meningkatkan kinerja.

Walau semua sistem memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dalam penerapannya, salah satu strategi ini dianggap paling sesuai baik ditinjau dari lingkungan perusahaan atau faktor lainnya.

Kita juga menyadari bahwa pengukuran kinerja seringkali diukur dari sisi finansialnya saja, hal ini juga wajar jika kita melihat motif perusahaan untuk memperoleh laba sebesar besarnya dengan pengorbanan yang minimalis (masih ingat teori klasik).

Memperhatikan sisi Financial/Keuangan juga wajar karena berkaitan dengan bagaimana perusahaan memutar modalnya apalagi perusahaan kecil dan menengah.

Tambahan lagi sisi keuangan selalu diperhatikan karena ada perusahaan yang menggunakan manajemen hutang dalam operasionalnya. Sebut saja beberapa perusahaan yang menggunakan jasa kredit Perbankan dalam pemodalannya, gali lobang tutup lobang.

Selanjutnya kita akan bahas tentang salah satu sistem balance scorecard namanya. awalnya diterapkan hanya untuk perusahaan dan sampai saat ini masih ada saja akademisi yang menganggap bahwa balance scorecard hanya sesuai untuk perusahaan. dalam perkembangannya balance scorecard juga diterapkan pada organisasi sektor publik dan pemerintahan.

Di indonesia masih sedikit penelitian mengenai Balance Scorecard pada sektor publik kalau adapun terbatas pada Rumah Sakit dan Universitas sebagai BLU (Badan Layanan Umum). Padahal Balancesorecard sudah diadopsi oleh Kementian Keuangan dan Kementrian Komunikasi dan Informatika RI bahkan saat ini Direktorat Jendral Anggaran sudah mengintegrasikannya pada menu aplikasi terbarunya DIPA online, banyak yang belum sadar jika sistem ini sudah terintegrasi pada seluruh Kementrian Republik Indonesia.

Dengan kata lain seharusnya seluruh Instansi pemerintah sudah dapat menerapkan Balancescorecard ini untuk meningkatkan kinerja dan Layanannya kepada masyarakat.

Selanjutnya kita akan bahas Balance Scorecard dari dua sisi yaitu
  1. Pada Perusahaan dan Oganisasi Profit Oriented.
  2. Pada Organisasi Sektor Publik dan Nirlaba

Menaikan BBM Keputusan Tidak Populer

Masih ingat Cerita Mario M Cuomo cerita sang gubernur  yang menghindari keputusan tidak populer dengan menaikan pajak?

Pada Awal Pemerintahannnya, Pertemuan meeting pertama pembahasan anggaran.
Mr. Cuomo dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus menaikan  Pajak untuk mengurangi belanja pengeluaran sekitar $ 300 juta.

Cuomo telah berjanji kepada pemilihnya bahwa dia tidak akan menaikkan salah satu dari tiga pajak yaitu: pajak pendapatan individu, pajak perusahaan, dan pajak penjualan.

Penasihat gubernur menyajikan sekitar 40 pilihan pendapatan tapi secara pribadi mendesak Cuomo untuk menaikkan pajak penjualan.

Mr Cuomo kemudian menjelaskan kepada peserta meeting bahwa penasihatnya adalah seorang "budgeteers", “Mereka tidak mengerti psikologi".

Sementara meningkatkan pendapatan dengan menaikan pajak dari salah satu dari tiga besar pajak akan  menghambat citra stabilitas yang Cuomo ingin buat dan akan menodai kredibilitas Cuomo dimata konstituen-nya. selengkapnya baca kisah sang gubernur.

Di tahun 2013 ini presiden RI SBY merasa tidak dapat lagi menghindari membuat keputusan untuk tidak menaikan BBM yang tinggal menunggu pelaksanaannya saja.

Coba bandingkan dengan tulisan artikel berikut:

Tulisan pengamat ekonomi Hendri Saparini tahun 2005 yang berjudul pantas Saja BBM Dinaikkan

Benar, memang sangat pantas bila pemerintah memilih menaikkan harga BBM.
Sebab, keputusan menaikkan harga BBM memang merupakan pilihan kebijakan
paling gampang, paling cepat, dan tanpa perlu kerja keras untuk
menyelesaikan masalah anggaran pemerintah yang terbatas.

Berbagai kritikan dan keberatan telah disampaikan sejak pemerintah -secara
dini, pada awal pemerintahannya- mengumumkan akan menaikkan harga BBM 40
persen.

Berbagai masukan juga diberikan berbagai kalangan. Mulai usul pemerintah
harus memilih kebijakan yang lebih adil -karena kenaikan harga BBM akan
semakin memberatkan rakyat- sampai berbagai usul konkret bahwa masih banyak
cara lain yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengurangi beban anggaran
tanpa harus menaikkan harga BBM.

Memang tidak adil bila pemerintah mendahulukan pengurangan subsidi BBM tanpa
sebelumnya melakukan pengurangan subsidi bunga obligasi bank rekap yang
selama ini dinikmati bankir dan pengusaha nakal. Bahkan, nilai subsidi bank
rekap adalah dua kali lipat jumlah subsidi BBM.

Demikian juga, tanpa mendahulukan upaya efisiensi di tubuh Pertamina,
kenaikan harga BBM jelas bukan pilihan yang bijaksana. Kita tahu,
inefisiensi yang terjadi di Pertamina telah menjadi salah satu sumber
tingginya biaya produksi BBM. Tambahan lagi, dengan daya beli masyarakat
yang rendah seperti saat ini, kenaikan BBM jelas akan sangat membebani
rakyat.

Tetapi, semua kritik dan usul sama sekali tidak dipedulikan oleh pemerintah.
Sikap ini sangat pas dengan gaya public relation (PR) pemerintah yang sedang
tren saat ini, I don't care. Sebaliknya, pemerintah justru menegaskan untuk
menyegerakan keputusan menaikkan harga BBM dengan tingkat kenaikan yang
tinggi, rata-rata 29%!

Bahkan, untuk memaksa rakyat menerima pilihan kebijakan itu, berbagai
strategi PR pun ditempuh tanpa memedulikan berbagai hasil jajak pendapat
yang menunjukkan keberatan rakyat terhadap kenaikan harga BBM. Jajak
pendapat Kompas, misalnya, menunjukkan 77% responden di Jawa tidak setuju
dengan kenaikan BBM dan rata-rata 80% responden mengeluhkan akan semakin
mahalnya harga kebutuhan pokok.

Ketidakpedulian pemerintah tersebut terjawab bila kita mengikuti berbagai
pernyataan dan argumen yang disampaikan untuk mendukung kebijakan kenaikan
BBM.

Tidak Paham Rakyat Miskin
Membaca pernyataan Menko Perekonomian yang menyatakan keyakinannya bahwa
dampak kenaikan harga BBM sangat kecil bagi rakyat miskin, saya sangat
prihatin. Minggu lalu, Menko Perekonomian menegaskan, kenaikan BBM mempunyai
dampak yang minimal terhadap rakyat miskin. Bapak Menteri memisalkan bahwa
rakyat miskin dengan penghasilan Rp 1 juta hanya akan terbebani dampak
kenaikan BBM Rp 20 ribu per bulan. Pernyataan itu benar-benar membuat kening
saya berkerut. Mengapa? Ternyata, Bapak Menteri tidak memahami siapa
sebenarnya rakyat miskin.

Ada dua hal penting dalam pernyataan tersebut. Pertama, pemahaman Bapak
Menteri yang ternyata salah tentang rakyat miskin dan keyakinan terhadap
kecilnya dampak kenaikan BBM yang tidak mendasar. Pemisalan tersebut
menunjukkan ketidakpahaman seorang menteri terhadap fakta dan data. Sangat
sulit dipercaya apabila seorang Menko Perekonomian yang juga pelaku bisnis
tidak paham bahwa besarnya upah minimum regional (UMR) di Jakarta
saja -wilayah UMR tertinggi nasional- hanya Rp 711.843 pada tahun 2005.
Bahkan, UMR di Kabupaten Semarang dan Bondowoso hanya Rp 440.000 dan Rp
310.00 untuk tahun 2004, jauh di bawah angka Rp 1 juta.

Padahal, jumlah rakyat Indonesia yang pendapatannya jauh di bawah UMR masih
sangat banyak dan ada sekitar 20 juta orang yang berada di bawah garis
kemiskinan.

Dari pernyataan tersebut, jelas sekali bahwa Menko Perekonomian memang tidak
memahami fakta yang semestinya menjadi dasar dalam menentukan pilihan
kebijakannya.

Dampak Tidak Fair
Kedua, akibat pemahaman yang salah terhadap kondisi rakyat yang akan
menanggung beban kenaikan BBM, akhirnya pemerintah menganggap enteng dampak
negatif kenaikan BBM. Menko Perekonomian menyatakan bahwa kenaikan harga BBM
hanya akan berdampak pada kenaikan sebesar 2% dari total pengeluaran
masyarakat miskin saat ini. Demikian juga Mendag berkeyakinan bahwa kenaikan
harga kebutuhan pokok maksimal hanya sebesar 1%. Artinya, menurut kajian Ibu
Menteri, harga beras yang semula Rp 2.300 per kilogram hanya akan naik Rp 23
per kilogram atau harga gula pasir akan naik Rp 45 dari Rp 4.500 menjadi Rp
4545. Padahal, pada kesempatan yang sama, Ibu Menteri mengakui bahwa saat
ini Indonesia juga mempunyai masalah dalam distribusi dan harga kebutuhan
pokok sangat rentan akibat ketergantungan yang tinggi terhadap barang impor.

Artinya, pertama, pernyataan Tim Ekonomi tersebut sangat menyederhanakan
masalah dan tidak sesuai fakta. Kedua, pemerintah telah mengabaikan data
bahwa bagi rakyat miskin, 100% pendapatannya adalah untuk konsumsi. Bagi
kelompok ini, tidak ada cadangan atau tabungan yang dapat digunakan untuk
menutupi defisit pendapatan akibat kenaikan harga BBM selain dengan
berutang.

Bila PR pemerintah terhadap dampak negatif kenaikan harga BBM sangat
minimal, sebaliknya dalam PR-nya pemerintah sangat optimistis
mempropagandakan dampak positif kenaikan BBM dalam memberantas kemiskinan.
Pemerintah yakin bahwa kenaikan BBM akan mengurangi jumlah orang miskin
Indonesia yang saat ini berjumlah 16,25% menjadi 13,87% dari total jumlah
penduduk.

Pernyataan Menteri Negara Perencanaan Nasional/Kepala Bappenas tersebut
berupaya meyakinkan kita bahwa pemerintah menjamin dana kompensasi BBM yang
Rp 10,5 triliun pada tahun 2005 akan sampai dengan aman ke tangan 36 juta
masyarakat miskin. Di samping itu, Ibu Menteri juga yakin bahwa dana
tersebut akan mampu mengompensasi bertambahnya beban rakyat miskin akibat
kenaikan harga BBM.

Pernyataan tersebut menunjukkan pemerintah sedang berupaya menutupi fakta
tentang berbagai kelemahan, kebocoran, dan rendahnya efektivitas penyaluran
dana kompensasi BBM selama ini. Padahal, berdasarkan temuan Bank Dunia,
kurang lebih dua pertiga penyaluran beras miskin tidak sampai ke tangan yang
berhak.

Demikia juga, seperti disampaikan Departemen Kesehatan, setidaknya, ada
sekitar 6,3 juta keluarga miskin yang tidak mempunyai akses terhadap
pelayanan kesehatan gratis yang merupakan bagian dari program kompensasi.
Bahkan, sampai saat ini, pemerintah belum menyampaikan hasil evaluasi dan
rencana penyaluran dana kompensasi yang lebih efektif dan bertanggung jawab.

Lagi-lagi, fakta ini menunjukkan rendahnya kemampuan pemerintah dalam
mengelola kebijakan. Manajemen kebijakan dengan menyampaikan
pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan masih dipakainya PR gaya lama
yang tidak jujur. Terbukti Tim Ekonomi belum memahami permasalahan dengan
baik, tetapi telah mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.
Anehnya, dengan pernyataan-pernyataannya, pemerintah seakan bangga karena
mampu dan berani memilih kebijakan yang tidak populer di mata rakyat.
Sungguh sangat disayangkan, keputusan berani pemerintah justru telah salah
tempat. Pemilihan kebijakan jelas bukan ditujukan untuk menjadikan
pemerintah populer, tetapi yang lebih penting harus didasarkan pada
pemahaman masalah sehingga pemilihan kebijakan benar-benar adil dan berpihak
kepada rakyat.

###


Masih Relevankah Pendapat ini?


Terlepas dari apakah tulisan henri saparini pada tahun  2005 ini masih relevan atau tidak
untuk kondisi 2013, dan pendapat terbaru Henri saparini
di media masa baru-baru ini, dengan mengatakan pemerintah sebaiknya
melakukan efisiensi dari pada opsi menaikan BBM.

Lalu mengapa pemerintah tidak mengimport langsung
dari supplier atau produsen yang benar-benar mempunyai minyak sendiri?
Padahal dengan mengimport langsung dapat menghemaat anggaran pemerintah yang 
dipergunakan untuk mensubsidi BBM.

Bagaimana tambang-tambang minyak kita sendiri?
Bagaimana sumber alam tambang lainnya?
Kapan Rakyat Indonesia sebagai sejahtera?


Seorang Presiden RI siapapun dia tetap akan menemui masalah yang sama
antara menaikan atau tidak menaikan BBM.
Maka lihat saja isu BBM ini akan selalu menjadi ISU strategis dan
hangat untuk selalu disimak dan diperdebatkan.

Siapa pun presidennya kedepan akan selau dituntut untuk tidak menaikan BBM.
Selama Indonesia masih menjadi negara pengimport energi maka keputusan untuk tidak
menaikan BBM akan sulit, Kecuali indonesia dipimpin oleh seseoraang yang mau mengeluarkan
koceknya dalam-dalam untuk mensubsidi masyarakat, atau seorang leader yang benar-benar
mampu menggerakan dan memanfaatkan potensi kekayaan alam indonesia yang semata-mata untuk
kesejahteraan rakyat sesuai amanat undang-undang dasar.

Kita tunggu saja, rakyat sebagai prisiple (prinsipal) akan menyerahkan amanat kepemimpinan
dan pengeloalan negara kepada siapa. Akankah janji-janji politik untuk mensejahterakan terwujud.
Akankah Akuntansi Keperilakuan digunakan sebagai pertimbangan keputusan perekonomian?

Maka Kata Kuncinya adalah:
Menaikan BBM adalah Keputusan yang sangat tidak populer.

Minggu, 21 April 2013

Sistem Standar biaya dan Kinerja Keuangan

Beberapa teknik inisiatif strategis adalah Activity Based Costing Sistem (ABC), Just-in-Time (JIT), dan Total Quality Management (TQM). Keputusan penetapan harga biasanya didasarkan pada perhitungan yang akurat dari biaya pelayanan dan unit yang diproduksi. Hal ini pada gilirannya menciptakan sistem biaya yang efektif. Sistem yang paling tepat dalam hal ini adalah sistem biaya Activity-Based (ABC). Sistem Activity Based  Costing adalah sistem alternatif yang dapat menggantikan sistem konvensional yang digunakan untuk mengalokasikan biaya umum.

Namun, minat dan kecenderungan untuk menggunakan sistem ini dikaitkan dengan berbagai keuntungan dicapai melalui sistem. Mungkin, yang paling menonjol dari keuntungan ini melibatkan langkah-langkah meningkatkan kinerja, memberikan langkah-langkah yang lebih akurat dan tepat untuk pengambilan keputusan harga, rasionalisasi biaya produksi, dan memilih kombinasi produksi yang optimal.

Menurut Robin Cooper dan Robert S. Kaplan (1991:269) menyebutkan bahwa ada dua asumsi penting yang mendasari ABC Systems, yaitu:
  1. Aktivitas menyebabkan timbulnya biaya (activities cause cost) ABC Systems berangkat dari asumsi bahwa sumber daya pendukung atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas, bukan sekedar menyebabkan timbulnya biaya yang harus dialokasikan. Tahap pertama dari ABC Systems adalah membebankan biaya-biaya dari sumber daya pendukung ke aktivitas-aktivitas yang menggunakan sumber daya tersebut. Karena itu, ABC Systems berangkat dari asumsi bahwa aktivitas menyebabkan timbulnya biaya.
  2. Produk dan pelanggan menyebabkan timbulnya permintaan atas aktivitas ( product and customers create the demand for activities) Untuk membuat produk diperlukan berbagai aktivitas dan setiap aktivitas memerlukan sumber daya untuk pelaksanaan aktivitas tersebut. Karena itu, pada tahap kedua dari ABC Systems biaya-biaya aktivitas dibebankan ke produk berdasar konsumsi atau permintaan masing-masing produk terhadap aktivitas tersebut.

Sistem produksi, Just-In-Time (JIT), mengadopsi sistem yang tepat untuk pengendalian persediaan bersama dengan sistem informasi yang efisien untuk koordinasi penuh antara produktivitas di satu sisi, dan pemasok di sisi lain. Koordinasi untuk mengangkut pasokan bahan baku sesuai dengan spesifikasi yang tepat, jumlah dan pada waktu yang tepat dan dalam kerangka lingkungan bisnis yang stabil. Sistem ini mengurangi biaya produksi, persiapan, re-operasi, transportasi, membuang surplus produksi dan waktu menunggu, dan terus meningkatkan kinerja terutama dalam konteks persaingan yang berat.

Beberapa point penting mengenai JIT (Just In Time System), diantaranya:
  •  JIT bertujuan menyimpan persediaan sesedikit mungkin sehingga sistem produksi harus sangat
    efisien.
  • Pengiriman akan menjadi kecil dan sering daripada dalam jumlah besar.
  • Perusahaan perlu memiliki pemasok yang dapat diandalkan- yang akan menjamin ketersediaan bahan baku berkualitas dan tepat waktu.
  • Tenaga Kerja juga harus fleksibel dan multi-terampil untuk meminimalkan penundaan dan
    menghilangkan kualitas produksi yang buruk. 
  • JIT sering dikaitkan dengan TQM.
  • Order persediaan hanya dilakukan bila diperlukan.

Total Quality Management (TQM), merupakan perluasan alami dari upaya intensif yang ditujukan untuk meningkatkan dan memperbaiki kinerja perusahaan melalui kontrol kualitas produk. Dalam TQM, kualitas adalah yang paling penting dari semua, bahkan biaya yang dikeluarkan untuk tujuan memelihara atau meningkatkan kualitas diperkenankan.

Beberapa varian terkait sistem biaya dalam lingkungan Sistem JIT maupun TQM, misalnya:

1. Harga Bahan Baku

Pada penerapan JIT :
Perusahaan siap membayar harga yang lebih tinggi untuk jaminan bahan baku yang bebas cacat dari pemasok. 
Pada TQM
perusahaan siap untuk membayar harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan bahan berkualitas yang lebih baik sehingga segala sesuatunya akan sesuai dengan rencana awal.

2. Efisiensi

Pada JIT
Efisiensi terhadap biaya tenaga kerja, overhead dan biaya overhead tetap.

Pada TQM
Tenaga kerja bekerja demi meminimalkan limbah dan meningkatkan kualitas, efisiensi bisa merugikan tetapi diperbolehkan asalkan produk akhir memenuhi harapan pelanggan.

3. Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi

Pada JIT
Karena tenaga kerja harus cepat dalam proses produksi maka pemborosan dapat terjadi

Pada TQM
Produk akhir yang dikirim kepada pelanggan adalah produk yang bebas cacat sehingga  tidak dikembalikan lagi (retur) oleh pelanggan karena alasan cacat sehingga lebih banyak bahan baku yang digunakan untuk memastikan produk yang lebih berkualitas dan dapat diterima pelanggan.

Pada ketiga varian diatas sangat dimungkinkan faktor tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Analisis varians tidak akan membantu dan berpotensi menyesatkan dalam organisasi modern

Standard costing adalah yang paling tepat pada lingkungan perusahaan yang stabil, dan terstandarisasi, tapi sekarang lingkungan sebagian besar lingkungan bisnis berubah dengan cepat sehingga Standard costing memunculkan masalah berikut:
  1. Berkonsentrasi pada pengurangan biaya dan mengabaikan kualitas atau kepuasan pelanggan.
  2. Terlalu banyak penekanan pada biaya tenaga kerja langsung tetapi dalam lingkungan modern, proses produksi terotomatisasi, sehingga tenaga kerja langsung adalah hanya sebagian kecil dari biaya
  3. Fokus pada pengendalian biaya variabel jangka pendek tetapi dalam lingkungan modern, sebagian besar biaya termasuk biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tetap.
  4. Lingkungan modern lebih dinamis, tidak stabil dan operasional yang lebih kompleks. Standard costing mungkin tidak cocok untuk lingkungan ini.
  5. Pencapaian standar dalam standard costing, tetapi lingkungan bisnis modern lebih berfokus pada perbaikan terus-menerus.
  6. Sistem standard costing  menghasilkan laporan keuangan mingguan atau bulanan tetapi dalam lingkungan bisnis yang dinamis, manajer memerlukan informasi dan laporan yang lebih cepat untuk menghadapi perubahan.
Meskipun standard costing telah dikritik ketika digunakan dalam lingkungan bisnis modern, tetap saja masih banyak digunakan oleh banyak organisasi saat ini. Syaratnya seperti halnya dengan teknologi informasi , standar dapat diperbarui dengan cepat untuk bersaing dengan perubahan lingkungan.Oleh karena itu dengan didampingi Sistem Teknologi Informasi  yang update, sistem standar costing menjadi mungkin dalam lingkungan yang berubah dengan cepat.

Pengaruh pada motivasi  dan tindakan karyawan.

Seorang manajer sangat memperhatikan faktor-faktor dari varian yang mempengaruhi kinerja keuangan dan kinerja perusahaan pada umumnya karena prestasi mereka diukur dari peningkatan keuntungan yang signifikan. Balasannya/Reward terhadap pencapaian tersebut adalah peningkatan insentif, tunjangan, promosi jabatan dll. Sehingga akan memotivasi manajer dan karyawan untuk meningkatkan kinerja individu.

Usaha lainnya yang kerap kali dilakukan oleh para manajer adalah bekerja keras mencapai standar atau memanipulasi standar yang telah ditetapkan. Memilah antara biaya-biaya yang dapat dikontrol dan biaya-biaya yang tidak dapat dikontrol sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang memuaskan.

Sebaliknya jika faktor-faktor seperti perencanaan varian terindikasi merugi maka baik manajer dan karyawan akan terdemotivasi untuk bekerja. Sehingga seorang manajer tidak dahulu dipersalahkan sebelum mendapatkan gambaran yang jelas mengenai penyebab kemunduran atau kerugian perusahaan. Bisa jadi varian yang merugikan adalah dari penerapan standar yang terlalu ideal.

Varian adalah penting bagi manajer, mereka mungkin melakukan apa saja untuk 'membuat' varian menguntungkan. Oleh karena itu, ukuran kinerja lainnya harus diatur sehingga manajer tidak bisa lepas dari kinerja yang buruk.

Bagi Akuntan standard costing pada sistem ABC, JIT, TQM bukan hanya tentang angka. Yang terpenting bagi Akuntan - dapat menafsirkan angka-angka yang mereka hitung dan menerjemahkannya dalam konteks kinerja yang tinggi.

Kamis, 11 April 2013

Asumsi Perilaku Manusia ditinjau dari Akuntansi Keperilakuan

Teori Klasik 
Teori ekomomi maupun manajemen klasik mengasumsikan bahwa tujuan utama dari aktifitas bisnis adalah memaksimalkan laba perusahaan begitu pula dengan anggota organisasi motivasi utamanya karena faktor ekonomi.

Teori ini mengasumsikan bahwa seorang manajer akan disibukan dengan pekerjaan yang memaksimalkan pendapatan dan meminimalkan biaya.

Teori ini juga mengasumsikan bahwa pekerjaan adalah tidak menyenangkan dan sebisa mungkin dihindari. Pekerja diasumsikan pemalas dan tidak effisien.

Hanya insentif ekonomi (Gaji, Sertifikasi, Tunjangan) yang dapat memotivasi orang untuk bekerja. Bagaimana pekerja diperusahaan/organisasi anda?.
Berdasarkan asumsi ini, maka sistem akuntansi dibuat terstruktur untuk membantu manajemen memaksimalkan laba perusahaan., memastikan dan mengontrol kinerja, bahkan untuk merencanakan aksi perusahaan selanjutnya.

Dalam Posisi ini seorang akuntan berperan sebagai penyedia informasi bagi manajemen dan menyeleksi informasi keuangan-yang paling berguna bagi manajemen, bahkan seorang akuntan dapat mengupdate informasi keuangan tersebut dan memutuskan untuk diberikan kepada siapa informasi tersebut.

Teori Modern 
Teori organisasi modern berbeda pandangan tentang asumsi dasar yang dibangun terutama tentang tujuan perusahaan dan perilaku anggota/pegawai didalamnya

.Tidak ada tujuan utama seperti maksimalisasi laba perusahaan. Jika ada hanyalah bagaimana perusahaan atau organisasi tersebut agar survival dalam persaingan bisnis.

Dalam pandangan teori organisasi modern , perusahaan memiliki banyak tujuan. Tujuan ini akan berubah sesuai dengan  responnya terhadap lingkungan eksternal perusahaan dan perubahan perilaku yang didominasi oleh para pekerja dalam organisasi perusahaan. bahkan dalam beberapa kasus sangat dimungkinkan terjadinya konflik dengan tujuan yang lainnya.

Tujuan dari Perusahaan berdasarkan teori modern lebih kompleks dibandingkan dengan teori klasik.
Teori organisasi modern juga memandang perilaku manusianya lebih kompleks, yang tidak cuma termotivasi karena motif ekonomi atau tambahan insentif, pekerja lebih termotifasi karena faktor sosial, psikologi, dan dorongan kebutuhan ekonomi.

Kekuatan masing masing faktor ini berbeda pada tiap orang tergantung pada latar belakang dan situasi kehidupan mereka saat ini.

Teori modern memandang pekerjaan sebagai tempat mencurahkan segala potensi yang mereka miliki, menambah arti dan kepuasan dalam kehidupan mereka.

 Pekerja akan merasa bahagia, menikmatinya karena pekerjaan dapat memuaskan salah satu dari kebutuhan dasar mereka.

Dari pada mengejar keuntungan yang besar, seorang manajer malah menjadi problem solver, koordinator, dan pembuat keputusan tentang aksi yang akan dilakukan perusahan,  penyeimbang baik dalam survivalnya sebuah perusahaan. dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Akuntansi dalam hal ini lebih berperan sebagai Sistem Informasi yang digunakan oleh tiap jenjang manajemen dalam pembuatan keputusan mereka.

Sehingga menghasilkan lebih banyak Rencana bisnis, Kontrol dan  penggunaan laporan keuangan untuk keperluan yang lebih baik. Sistem akuntansi berdasarkan kesadaran akan kompleksitas perilaku manusia dan memahami bagaimana mereka bereaksi terhadap informasi akuntansi.

Implikasinya adalah bahwa informasi akuntansi menjadi bermanfaat pada organisasi perusahaan modern, tidak hanya menyajikan data keuangan, lebih dari pada itu menjadi sistem informasi manajemen inklusif.

Akuntan yang mendesainnya harus  memahami kompleksitas tujuan organisasi, sosial, psikologi, dan faktor ekonomi yang mempengaruhi perilaku manusia.(nurkhikmah)

Sabtu, 30 Maret 2013

Agency Cost

Biaya keagenan (agency cost) adalah konsep ekonomi mengenai biaya pemilik (principal) baik organisasi, perseorangan atau sekelompok orang, ketika pemilik (principal) memilih atau menyewa seorang "agen" untuk bertindak atas namanya. Kedua belah pihak memiliki kepentingan yang berbeda dan agen memiliki informasi lebih banyak , maka pemilik (principal) tidak bisa secara langsung memastikan bahwa agennya selalu bertindak dalam kepentingan yang terbaik bagi pemilik (principal).

Contoh dari biaya keagenan:
  1. Biaya yang ditanggung oleh pemegang saham pemilik (principal) , ketika manajemen perusahaan (agen) membeli perusahaan lain untuk memperluas kekuasaannya, atau menghabiskan uang pada proyek-proyek yang lebih disukai bukannya memaksimalkan nilai perusahaan.
  2. Masyarakat sebagai pemilih dimana berperan sebagai principal ketika seorang politisi/wakil rakyat sebagai (agen). Seringkali politisi tersebut yang lolos legislatif selalu dibantu oleh "kontributor" besar untuk kampanye mereka daripada para pemilihnya.
Sumber biaya
Biaya ini terdiri dari dua sumber utama:
  1. Biaya inheren terkait dengan penggunaan agen (misalnya, risiko bahwa agen akan menggunakan sumber daya organisasi untuk keuntungan mereka sendiri) dan
  2. Biaya teknik yang digunakan untuk mengurangi masalah yang terkait dengan agen menggunakan informasi -pertemuan lebih lanjut tentang apa yang dilakukan agen (misalnya, laporan keuangan biaya produksi ) atau menggunakan mekanisme untuk menyelaraskan kepentingan agen dengan principal ( misalnya kompensasi eksekutif dengan pembayaran ekuitas seperti opsi saham ).
Biaya keagenan dalam tata kelola perusahaan
Asimetri informasi yang ada antara pemegang saham dan Chief Executive Officer (CEO) umumnya dianggap sebagai contoh klasik dari masalah principal-agent . Agen (manajer) bekerja atas nama principal (pemegang saham), yang tidak mengamati tindakan, atau banyak tindakan, atau tidak menyadari dampak dari banyak tindakan agen. Yang paling penting, bahkan jika tidak ada informasi asimetris, desain kontrak manajer akan menjadi sangat penting untuk menjaga hubungan antara tindakan mereka dan kepentingan pemegang saham.
Asimetri informasi memberikan kontribusi untuk masalah moral hazard dan adverse selection.
Biaya agensi terutama timbul karena biaya kontrak dan perbedaan kontrol, pemisahan kepemilikan dan kontrol serta tujuan manajer.yang berbeda (bukan maksimalisasi pemegang saham)

Manajemen
Kasus klasik agency cost perusahaan adalah profesional manajer-khususnya CEO-dengan hanya sebagian kecil kepemilikan, memiliki kepentingan yang berbeda dari pemilik perusahaan.
Alih-alih membuat perusahaan lebih efisien dan menguntungkan, CEO mungkin tergoda untuk:
  1. Membangun kerajaan (yaitu meningkatkan ukuran perusahaan, bukan ukuran dari keuntungan, "yang biasanya meningkatkan prestise eksekutif ', tunjangan, kompensasi", dll, tetapi dengan mengorbankan efisiensi dan nilai perusahaan);
  2. Tidak memecat bawahan yang biasa-biasa saja atau bahkan yang tidak memiliki kemampuan
  3. mempertahankan uang dalam jumlah besar, boros, memberikan kemerdekaan dari pasar modal
  4. Maksimum kompensasi dengan meminimalkan "persyaratan" -tekanan
  5. Melakukan Penipuan, manajemen bahkan mungkin memanipulasi angka-angka keuangan untuk mengoptimalkan bonus dan harga saham yang berhubungan dengan pilihan.